Pendidikan Tinggi bagi ABK dan mencari Minat Bakatnya

Memiliki anak ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) di Indonesia berarti harus kuat mental dan siap menerima cemooh, sindiran dan segala tindakan meremehkan para ABK.  Indonesia belum ramah ABK dan sangat sulit bagi lingkungan untuk inklusif menerima mereka yang berkebutuhan khusus.Dalam hal pendidikan lanjutan usai lulus SMA pun, kami orang tua masih harus dipusingkan untuk mencari sekolah tinggi yang sesuai.  Bahkan banyak orang mengatakan: “Hah, ngapain anak seperti itu disekolahkan tinggi-tinggi, lha wong gak iso opo-opo”.  Mereka lupa bahwa ABK pun manusia yang memiliki keinginan untuk bermartabat, independen atau semi independen untuk kemandiriannya dan  bermanfaat bagi sesama.

Tidak mudah mencari sekolah tinggi bagi ABK di Indonesia yang sesuai dengan minat dan bakat mereka, apalagi mendidik ABK berarti pendidikan yang berulang dan terus-menerus, karena keterbatasan mereka.  Ya, ABK harus selalu belajar pengulangan-pengulangan dalam praktek dan hal ini membuat mereka sangat disiplin dalam prosesnya.  Communication skill pun masih tetap harus dipelajari para ABK, apalagi belajar berkomunikasi dalam tim.

JENIS COLLEGE BAGI ABK

Saat  browsing dengan kata kunci “college for special needs” tampil banyak college di Inggris, Amerika dan Australia, namun di Indonesia hanya terlihat beberapa universitas negeri dan swasta memiliki program untuk ABK dengan daya tampung terbatas di jurusan komputer, desain grafis, seni dan marketing. 

Program ini khusus dengan serangkaian tes dan berbiaya cukup mahal bagi saya yang single parent, harus menyediakan laptop khusus  untuk putra saya kuliah dan antar jemput kuliah.

Bagi ABK proses belajar pasti selalu melibatkan orang tua, maka jam tatap muka perkuliahan tentu berbeda dengan mereka yang normal.  Basis modul ala homeschooling atau open university (universitas terbuka) dan diseling praktek kewirausahaan di kampus atau tempat usaha sebanyak 1 minggu sekali tentu lebih sesuai, sementara tugas dapat dilaksanakan di rumah yang tentu saja masih melibatkan orang tua.

Ya, program diploma bagi ABK lebih sesuai yang bukan teori melulu atau ilmu dasar, namun fokus berbasis ketrampilan sesuai minat dan bakat ABK.  Kelak ketrampilan ini akan menumbuhkan kemandirian yang berguna bagi hidupnya pasca lulus dari sekolah tinggi.

MINAT DAN BAKAT ABK

Tidak mudah mencari minat dan bakat ABK, tidak semudah menyerahkan ke psikolog atau guru semata, namun peran orang tua lebih utama.  Orang tua dalam kesehariannya harus terus mengamati ABK dan melakukan uji-coba mencari ketrampilan yang paling sesuai untuknya, namun menjadi kesukaannya. 

Saya sudah tak terbilang putar otak mencari minat putra saya, mulai dari mengikutkan kursus piano dari umur 2 tahun yang sekaligus melatih motorik halusnya, ikutkan les drum, les bela diri mulai dari silat – taekwondo – karate – aikido, praktek membuat pizza, bakso dan akhirnya tanpa sengaja saya pun mengikut sertakannya dalam membantu usaha Green Juice KRESZ-KRESZ yang saya lakoni. 

Putra saya trampil dan fokus memetik sayuran bahan baku green juice, mencuci botol dan mensterilkan, menempel label stiker, memasukkan ke freezer box, membuang sampah dan memasukkan air matang ke wadah di kulkas.

Saya mengajari putra saya berulang-ulang dan harus mengibarkan bendera kesabaran.  Hasilnya tidak langsung sesuai, ada proses trial and error yang astagfirullah, namun bila telah beradaptasi para ABK sangat fokus dan cekatan melakukan pekerjaan berulang-ulang.

Saya pun mengamati bahwa putra saya senang berdoa, maka saya pun mendaftarkan putra saya menjadi anggota auxilier (pendoa) di Legio Maria BRI Paroki Santo Nikodemus Ciputat dan telah diterima legio.  Rasa percaya diri putra saya semakin berkembang.

Setiap saya berkegiatan yang ada di benak saya adalah apakah putra saya dapat berpartisipasi juga, maka saat donor darah dan mendaftar sebagai pendonor kornea mata pun saya libatkan putra saya.

PERAN PEMERINTAH DAN PERUSAHAAN

Peran Pemerintah dalam hal menunjang keberhasilan edukasi tinggi bagi ABK sangat diperlukan, khususnya dalam memberikan fasilitas praktek dan regulasi insentif pajak bagi perusahaan-perusahaan yang merekrut pekerja para ABK.

Perusahaan pun dapat menyalurkan program CSR kepada sekolah tinggi ABK sebagai bagian dari partisipasi sosial yang selanjutnya dapat meringankan pajak perusahaan.  Dalam hal ini lagi-lagi peran serta Pemerintah menjadi faktor kunci.

Banyak pekerjaan yang dapat dialihdayakan kepada ABK dan dapat dilakukan di rumah, lantas disetorkan ke kantor, antara lain: industri restoran memberikan kesempatan membuat packing box, memasukkan sedotan atau sendok ke boks atau industri pembuatan boneka memberi kesempatan ABK melekatkan rambut ke kepala boneka , dan masih banyak lagi.

Bukan nilai uang yang menjadi faktor utama pemberdayaan ABK, namun proses memanusiakan manusia dan menanamkan growth mindset masyarakat Indonesia bahwa ABK pun dapat mandiri (independen atau semi independen).  Proses ini yang patut kita syukuri.

Saya sadar mimpi akan Indonesia “Yang Ramah ABK” masih panjang upayanya, apalagi menyamakan keinklusifitasannya seperti di negara-negara maju.

Tinggalkan Balasan